Larut dalam kerumunan
Orang dapat dengan mudah larut dalam kerumunan, publik, atau sistem. Negara yang terdiri dari sudut etnis dan agama bersifat homogen, atau lingkungan kerja, partai politik, organisasi yang menuntut kesetiaan total anggotanya, adalah ancaman bagi keotentikan hidup seseorang. Dalam sistem seperti itu orang dapat kehilangan jati dirinya. Tidak ada lagi keberanian untuk menyatakan siapa dirinya dan apa yang dipikirkannya. Bahkan individu-individu yang larut dalam sistem dapat dengan mudah mengidentifikasikan diri dengan sistem itu.
Mengeluarkan pernyataan memang sudah begini prosedurnya atau sudah begitu prinsipnya tanpa berpikir kembali apakah prosedur atau prinsip itu benar, dapat menjadi tanda kelarutan individu dalam sistem yang abstrak. Mereka mengikuti prinsip semata-mata karena hal itu sudah menjadi tugasnya, tidak peduli apakah dengan bertindak demikian mereka melepas semua tanggung jawabnya. Bertindak menurut prinsip dapat membuat orang menjadi anonim, persis seperti publik, karena memang tidak ada hasrat dan komitmen terhadap apa yang dilakukan.
Manusia memang lebih senang larut dalam sistem daripada menyatakan siapa dirinya. Dalam sistem ia mendapat begitu banyak rekan individu lain. Tak perlu ia berjuang sendirian melawan arus. Hanya dengan mengikuti arus utama yang mengalir dalam sistem, ia akan selamat. Tak menjadi soal apabila yang terjadi hanyalah konformitas terhadap tatanan yang berlaku. Tak peduli apabila hidup yang dihayati hanya begitu-begitu saja, tanpa gairah atau hasrat batin untuk menghidupinya.
Anonimitas dalam sistem membuat individu hidup tanpa gairah dan tanpa subyektivitas.Tujuan hidup tidak pernah jelas karena memang tidak ada komitmen. Hidupnya tidak berbentuk karena tidak difokuskan pada hal atau pribadi tertentu.
Kebenaran adalah subyektivitas. Membuat pilihan, memberikan komitmen, dan memenuhinya dengan penuh hasrat adalah cara-cara hidup dalam kebenaran subyektif. Keberanian untuk mengambil keputusan adalah wujud keyakinan bahwa kehidupan manusia memang harus dihayati ke arah muka menuju masa depan. Itulah cara yang dapat ditempuh oleh manusia agar dapat menghayati kehidupan yang sejati.
This entry was posted
on Thursday, December 1st, 2005 at 2:12 am and is filed under Life.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
December 16th, 2008 at 6:50 am
Funny foto here